لَا يَجوزُ الافْتِياتُ على الأئِمَّةِ وأصْحَابِ الوِلاياتِ فيما يَخُصُّهُم  “Tidak boleh mendahului (mengambil alih wewenang) para pemimpin dan pemegang otoritas dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan mereka”

Authors

  • Ricky Ardiansyah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara image/svg+xml Author
  • Annisa Rustiani Universitas Islam Negeri Sumatera Utara image/svg+xml Author

DOI:

https://doi.org/10.65244/jggm.v1i3.352

Keywords:

Kaidah Fiqh, Iftiyat, Kepemimpinan, Ketertiban Sosial, Persatuan Umat

Abstract

Kaidah fiqh "لَا يَجوزُ الافْتِياتُ على الأئِمَّةِ وأصْحَابِ الوِلاياتِ فيما يَخُصُّهُم" (tidak boleh mendahului/mengambil alih wewenang para pemimpin dan pemegang otoritas dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan mereka) merupakan salah satu kaidah fiqh yang fundamental dalam menjaga keteraturan sosial dan persatuan umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna, penjelasan, dalil, dan aplikasi praktis dari kaidah ini dalam konteks hukum Islam kontemporer. Melalui pendekatan analisis kualitatif terhadap literatur fiqh dan pendapat para ulama klasik maupun kontemporer seperti Al-Mawardi, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Rajab, artikel ini menunjukkan bahwa kaidah tersebut bukan untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada pemimpin, melainkan sebagai mekanisme untuk menjaga sistem hukum dan mencegah anarki sosial (fawda). Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kaidah ini didasarkan pada prinsip-prinsip Sadd adz-Dzari'ah (menutup celah kerusakan) dan Jam'iyyah (kepentingan bersama), dengan pengecualian yang jelas ketika pemimpin memerintahkan kemaksiatan. Kesimpulannya, kaidah ini memiliki relevansi signifikan dalam menjamin ketertiban negara dan pencegahan perpecahan umat di era modern.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ahmad. Musnad Aḥmad, no. 15369. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘, no.1492.

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. 2003. Ihya’ Ulumiddin. Gitamedia Press

al-Gharnati, Syamsuddin Abu Abdullah bin al-Azraq, Badā’i‘ al-Sulūk fī Ṭabā’i‘ al-Mulūk, Juz 1.

al-Hanbali, Ibn Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Beirut: Dar al-Ma‘rifah. Al-‘Izz bin ‘Abd al-Salam, Qawā‘id al-Ahkām fī Maṣāliḥ al-Anām, Juz 1.

Kementrian Agama dan Urusan Islam. 1986. Ensiklopedia Fiqh, bagian 5: Pengawasan dan Pemecatan. Kuwait: Dar al-Hikmah.

Al Mundziri, Al-Hafidz. Sahih Muslim. Batu Pusaka: Hikam Pustaka.

An-Nasa'I, Ahmad bin Syuaib. 1886. Sunan an-Nasa'I Juz 47. Mesir: Addarul Alamiyyah.

al-Tanam, Ibrahim. 1436. Al-Afta'iyat ‘ala Ghayr al-Imam: Studi Fiqih Asasi. Majalah Al-Adl, Edisi 68.

al-Tabrizi, Imam Khatib. 1968. Mishkat al-Masabih, Juz 18, Hadis 103 Bukhari and Muslim.Beirut: Dar al-fikr.

Taymiyyah, Ibn, al-Siyasah asy-Syar’iyyah.

Taymiyyah, Ibn. al-Ḥisbah fi al-Islām. Kairo: Dar al-Ṭibā‘ah. Taymiyyah, Ibn, Majmū‘ al-Fatāwā, jilid 28.

https://www.ahl-alquran.com/arabic/printpage.php?doc_type=1&doc_id=24920. https://www.islamancient.com/%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%81%D8%AA%D9%8A%D8%A7%D8%AA-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%88%D9%84%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%85%D8%B1/

https://www.al-jasem.com/archives/2411

Published

2025-06-29

How to Cite

لَا يَجوزُ الافْتِياتُ على الأئِمَّةِ وأصْحَابِ الوِلاياتِ فيما يَخُصُّهُم  “Tidak boleh mendahului (mengambil alih wewenang) para pemimpin dan pemegang otoritas dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan mereka”. (2025). Journal of Golden Generation Multidisciplinary , 1(3), 513-522. https://doi.org/10.65244/jggm.v1i3.352

Similar Articles

21-30 of 48

You may also start an advanced similarity search for this article.