لَا يَجوزُ الافْتِياتُ على الأئِمَّةِ وأصْحَابِ الوِلاياتِ فيما يَخُصُّهُم “Tidak boleh mendahului (mengambil alih wewenang) para pemimpin dan pemegang otoritas dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan mereka”
DOI:
https://doi.org/10.65244/jggm.v1i3.352Keywords:
Kaidah Fiqh, Iftiyat, Kepemimpinan, Ketertiban Sosial, Persatuan UmatAbstract
Kaidah fiqh "لَا يَجوزُ الافْتِياتُ على الأئِمَّةِ وأصْحَابِ الوِلاياتِ فيما يَخُصُّهُم" (tidak boleh mendahului/mengambil alih wewenang para pemimpin dan pemegang otoritas dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan mereka) merupakan salah satu kaidah fiqh yang fundamental dalam menjaga keteraturan sosial dan persatuan umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna, penjelasan, dalil, dan aplikasi praktis dari kaidah ini dalam konteks hukum Islam kontemporer. Melalui pendekatan analisis kualitatif terhadap literatur fiqh dan pendapat para ulama klasik maupun kontemporer seperti Al-Mawardi, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Rajab, artikel ini menunjukkan bahwa kaidah tersebut bukan untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada pemimpin, melainkan sebagai mekanisme untuk menjaga sistem hukum dan mencegah anarki sosial (fawda). Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kaidah ini didasarkan pada prinsip-prinsip Sadd adz-Dzari'ah (menutup celah kerusakan) dan Jam'iyyah (kepentingan bersama), dengan pengecualian yang jelas ketika pemimpin memerintahkan kemaksiatan. Kesimpulannya, kaidah ini memiliki relevansi signifikan dalam menjamin ketertiban negara dan pencegahan perpecahan umat di era modern.
Downloads
References
Ahmad. Musnad Aḥmad, no. 15369. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘, no.1492.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. 2003. Ihya’ Ulumiddin. Gitamedia Press
al-Gharnati, Syamsuddin Abu Abdullah bin al-Azraq, Badā’i‘ al-Sulūk fī Ṭabā’i‘ al-Mulūk, Juz 1.
al-Hanbali, Ibn Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Beirut: Dar al-Ma‘rifah. Al-‘Izz bin ‘Abd al-Salam, Qawā‘id al-Ahkām fī Maṣāliḥ al-Anām, Juz 1.
Kementrian Agama dan Urusan Islam. 1986. Ensiklopedia Fiqh, bagian 5: Pengawasan dan Pemecatan. Kuwait: Dar al-Hikmah.
Al Mundziri, Al-Hafidz. Sahih Muslim. Batu Pusaka: Hikam Pustaka.
An-Nasa'I, Ahmad bin Syuaib. 1886. Sunan an-Nasa'I Juz 47. Mesir: Addarul Alamiyyah.
al-Tanam, Ibrahim. 1436. Al-Afta'iyat ‘ala Ghayr al-Imam: Studi Fiqih Asasi. Majalah Al-Adl, Edisi 68.
al-Tabrizi, Imam Khatib. 1968. Mishkat al-Masabih, Juz 18, Hadis 103 Bukhari and Muslim.Beirut: Dar al-fikr.
Taymiyyah, Ibn, al-Siyasah asy-Syar’iyyah.
Taymiyyah, Ibn. al-Ḥisbah fi al-Islām. Kairo: Dar al-Ṭibā‘ah. Taymiyyah, Ibn, Majmū‘ al-Fatāwā, jilid 28.
https://www.ahl-alquran.com/arabic/printpage.php?doc_type=1&doc_id=24920. https://www.islamancient.com/%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%81%D8%AA%D9%8A%D8%A7%D8%AA-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%88%D9%84%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%85%D8%B1/
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Journal of Golden Generation Multidisciplinary

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with Journal of Golden Generation Multidisciplinary agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the Journal of Golden Generation Multidisciplinary right of first publication with the work simultaneously This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors can enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or edit it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) before and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.









